Di era digital yang kompetitif seperti sekarang, memulai bisnis bukan hanya soal keberanian atau modal. Menurut Yoso Lukito, CEO dan Founder Sekolah Digital Bisnis Indonesia (SDBI), kesalahan terbesar banyak pebisnis pemula adalah terjun ke dunia usaha tanpa riset pasar dan tanpa memiliki rencana keluar (exit plan) yang jelas.
“Banyak orang memulai bisnis hanya karena ikut-ikutan tren atau tergiur hasil instan. Padahal, mereka belum tahu siapa target pasar mereka, bagaimana perilaku konsumennya, atau bahkan ke mana arah bisnis ini dalam jangka panjang,” ujar Coach Yoso dalam salah satu konten edukasinya di Instagram.
Tanpa pemahaman yang kuat tentang pasar, maka bisnis akan mudah goyah saat menghadapi tantangan. Akibatnya, pemilik bisnis sering kali merasa bingung di tengah jalan, tidak tahu strategi apa yang harus dijalankan, dan akhirnya menyerah.
Market Research sebagai Kunci Keberlanjutan
Yoso menegaskan bahwa market research atau riset pasar bukan sekadar formalitas. Ini adalah pondasi utama agar bisnis bisa berjalan dalam jalur yang benar. Dengan riset yang tepat, pelaku bisnis dapat memahami kebutuhan konsumen, potensi pasar, hingga memetakan kompetitor.
"Tanpa riset, kamu seperti menembak dalam gelap. Sekali dua kali bisa kena, tapi lama-lama habis peluru tanpa hasil," jelasnya.
Exit Plan adalah Strategi, Bukan Sekadar Jalan Keluar
Selain riset, exit plan juga merupakan bagian penting dari strategi bisnis. Banyak orang mengira exit plan berarti menyerah, padahal justru sebaliknya. Exit plan adalah perencanaan strategis untuk memastikan bagaimana pemilik bisnis bisa keluar dengan kondisi terbaik, baik itu melalui penjualan bisnis, IPO, atau transformasi kepemimpinan.
“Bisnis yang serius pasti disiapkan untuk tumbuh, berkembang, dan suatu saat dilepaskan atau diwariskan. Tanpa exit plan, kamu hanya ‘bermain’ bisnis, bukan membangunnya dengan visi besar,” tambah Coach Yoso.
Digital Marketing dan Crowd Digital Transaction
Dalam penjelasan lanjutannya, Coach Yoso juga menyoroti pentingnya digital marketing sebagai penggerak utama dalam membangun bisnis yang kokoh. Tugas utama digital marketing adalah menciptakan apa yang disebut Crowd Digital Transaction.
Apa itu Crowd Digital Transaction? Ini adalah kondisi di mana bisnis mampu menciptakan keramaian digital bukan hanya sekadar traffic atau viewers tetapi keramaian yang berujung pada transaksi nyata.
“Crowd Digital Transaction adalah gabungan dari branding yang kuat, penawaran yang tepat sasaran, dan sistem yang mampu mengubah atensi menjadi aksi. Bukan hanya ramai, tapi ramai yang beli,” jelasnya.
Strategi ini sangat relevan dengan kondisi pasar saat ini, di mana konsumen banyak menghabiskan waktu di media sosial dan platform digital. Maka, kehadiran digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Bangun Bisnis dengan Arah dan Akhir yang Jelas
Coach Yoso mengingatkan bahwa membangun bisnis harus dimulai dengan pemahaman yang kuat tentang pasar, arah bisnis, dan potensi akhirnya. Tanpa riset dan exit plan, bisnis ibarat kapal tanpa kompas.
Namun dengan strategi digital marketing yang tepat dan pemahaman tentang Crowd Digital Transaction, bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan.



