Dalam agenda BOD & All Team Meeting yang diselenggarakan oleh NashTa Group, Yoso Lukito CEO dan Founder Sekolah Digital Bisnis Indonesia (SDBI) hadir sebagai pembicara utama membawakan topik yang relevan dan penting di era digital saat ini: "Pencitraan vs Personal Branding".
Banyak orang, termasuk profesional dan pelaku bisnis, masih menganggap bahwa pencitraan dan personal branding adalah hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar, baik dari segi niat, dampak, maupun keberlangsungannya.
1. Pencitraan: Fokus Menampilkan, Bukan Menjadi
Dalam pemaparannya, Coach Yoso Lukito menjelaskan bahwa pencitraan cenderung bersifat permukaan. Ini adalah usaha untuk terlihat baik di mata publik, sering kali hanya berfokus pada visual atau narasi yang menarik, namun belum tentu mencerminkan keaslian.
“Kalau kamu hanya fokus kelihatan keren tanpa benar-benar menjadi pribadi yang seperti itu, cepat atau lambat orang akan sadar bahwa itu palsu,” ujar Coach Yoso.
Pencitraan bisa dibentuk secara instan, tapi rentan runtuh. Sekali ketahuan tidak konsisten, kepercayaan pun lenyap seketika.
2. Personal Branding: Jadi Diri Sendiri dengan Konsisten
Berbeda dengan pencitraan, personal branding adalah tentang membangun keaslian diri dengan nilai yang konsisten dan relevan. “Personal branding itu bukan soal menampilkan yang terbaik, tapi menunjukkan siapa diri kita sebenarnya dengan kelebihan dan kekurangannya dan tetap bisa memberi manfaat bagi orang lain,” jelas Coach Yoso.
Ia menekankan bahwa membangun personal branding bukan tentang ‘berakting’, tapi justru memaksimalkan potensi dan keunikan yang dimiliki, lalu memperkenalkannya secara strategis agar dikenal dan dipercaya.
3. Citra Bisa Runtuh, Personal Branding Bertahan Lama
Salah satu poin terpenting dalam sesi tersebut adalah bagaimana citra bisa hancur dalam sekejap, apalagi jika dibangun tanpa dasar nilai yang kuat. Sedangkan personal branding yang autentik dan konsisten mampu bertahan jangka panjang, bahkan ketika seseorang menghadapi kritik atau krisis.
"Kalau pencitraan dibangun dari asumsi, personal branding dibangun dari realitas. Itulah kenapa personal branding jauh lebih tahan uji," tambahnya.
Pesan Penutup: Pilih Mana?
Di akhir sesinya, Coach Yoso Lukito mengajak seluruh peserta, mulai dari Board of Directors hingga staf operasional NashTa Group, untuk mulai menilai kembali bagaimana mereka ingin dikenal.
“Mau jadi sosok yang hanya kelihatan hebat, atau benar-benar jadi hebat dan berdampak?” tantangnya.
Melalui pembahasan ini, Coach Yoso berharap agar setiap anggota tim NashTa mampu membangun citra diri yang bukan hanya menarik di permukaan, tetapi juga punya fondasi kuat yang bisa menginspirasi dan dipercaya oleh banyak pihak.



